ADAPTASI SPASIAL PADA INTERIOR RUMAH TINGGAL PASCA GEMPA
DI KASONGAN BANTUL,
Martino Dwi Nugroho*
Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006 merupakan hari yang suram bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Saat itu, gempa bumi tektonik dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter berlangsung kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik mengguncang wilayah tersebut. Ribuan nyawa melayang, harta benda hilang dan banyak orang kehilangan pekerjaan. Tak terkecuali rumah. Ratusan rumah rusak bahkan hancur sehingga banyak warga kehilangan tempat tinggal.
Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini rubuh. Salah satu sentra wisata yang terkena dampak gempa cukup parah adalah Kasongan. Salah satu bantuan yang diterima oleh warga Kasongan adalah rumah atau tempat tinggal. Saat ini mereka sudah menempati rumah bantuan tersebut hampir dua tahun. Selama waktu tersebut mereka mengalami penyesuaian terhadap lingkungan yang baru. Penyesuaian diri ini mengakibatkan perubahan pada diri seseorang tersebut atau seseorang akan merubah lingkungan huniannya sesuai dengan kebutuhannya. Perubahan tersebut dapat disebabkan karena tempat maupun lingkungan dari tempat tinggal sebelumnya. Menurut Sarwono (1992:48), kelebihan manusia dari makhluk hidup lainnya, adalah bahwa ia bisa mengubah kemanfaatan dari suatu stimulus sehingga dapat lebih memenuhi kebutuhannya sendiri. Tekanantekanan meningkatkan energi dalam dirinya sehingga ia harus mengadakan penyesuaian diri (coping behavior) atau menyesuaikan lingkungan untuk kondisi dirinya. Penyesuaian antara individu dengan lingkungan disebut adaptasi dan bila ada penyesuaian keadaan lingkungan untuk dirinya secara individu dinamai adjustment. Selanjutnya menurut Sarwono (1992:107109), seseorang akan mempersepsikan lingkungannya kemungkinan melalui dua macam. Kemungkinan yang pertama adalah rangsangan-rangsangan yang dipersepsikan itu akan berada dalam batas-batas normal sehingga timbullah kondisi seimbang (homeostatis). Kemungkinan kedua adalah rangsangan-rangsangan itu berada di atas batas-batas optimal (overstimulation). Akibat kemungkinan yang kedua ini adalah stres dan manusia harus melakukan penyesuaian diri (coping behaviour).
Biasanya untuk mencapai kepuasan yang lebih tinggi pemakai ruang mengadakan modifikasi spasial sesuai dengan kebutuhan (Hester, 1975;Lang, 1974). Kepuasan pemakai ruang terutama dapat dinilai dari kesumpekan, suasana ruang terutama estetikanya yang di dapat lewat penampilan visual dan faktor sensori, simbol kepemilikan, ukuran serta bentuk ruang, tatanan furnitur dan aspek spasial, pencahayaan dan penghawaan (Heimstra, 1974; Porteous, 1977; Ching, 1987). Menurut Sarwono (1992:108-111), adaptasi adalah mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan. Sebagai contoh pengemudi kendaraan membelokkan kendaraannya untuk menghindari lubang-lubang di jalan, sedangkan adjustment adalah mengubah lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku. Lokasi Kasongan dipilih karena rumah masyarakat di Kasongan memiliki dua fungsi yaitu sebagai rumah tinggal dan tempat bekerja. Hal ini disebabkan oleh karena sebagian besar masyarakat Kasongan adalah perajin gerabah. Sehingga menarik untuk diteliti bagiamana kejelasan hubungan antara penyesuaian lingkungan, kebutuhan penghuni dan perilaku ditinjau dari aspek adaptasi dan adjustment pada setting yang baru, dalam hal ini rumah tinggal yang baru terkait dengan aktifitas mereka dalam memfungsikan dan menata ruang, baik sebagai rumah tinggal maupun tempat bekerja.